Badak Berbulu

Badak berbulu punah karena perubahan iklim, bukan perburuan

ДиБгд / CC BY-SA

Kepunahan megafauna prasejarah seperti mammoth berbulu, singa gua, dan badak berbulu di akhir zaman es terakhir sering dikaitkan dengan penyebaran manusia purba. Meskipun perburuan berlebihan menyebabkan kematian beberapa spesies, namun, sebuah penelitian baru menemukan bahwa kepunahan badak berbulu mungkin memiliki penyebab berbeda yaitu: perubahan iklim. Dengan mengurutkan DNA purba dari 14 megaherbivora ini, para peneliti menemukan bahwa populasi badak berbulu tetap stabil dan beragam hanya sampai beberapa ribu tahun sebelum menghilang dari Siberia, ketika suhu kemungkinan naik terlalu tinggi untuk mereka beradaptasi. Temuannya diterbitkan dalam jurnal Current Biology

Diperkirakan manusia muncul awalnya di timur laut Siberia empat belas atau lima belas ribu tahun yang lalu, pada saat badak berbulu punah. Namun ada beberapa penemuan situs baru pendudukan manusia yang jauh lebih tua, berusia sekitar tiga puluh ribu tahun. “ jelas penulis senior Love Dalén, seorang profesor genetika evolusioner di Centre for Palaeogenetics, sebuah kerjasama antara Stockholm University dan Swedish Museum of Natural History. ” Jadi, laju kepunahan badak berbulu tidak bertepatan dengan kemunculan pertama manusia di wilayah tersebut. Jika ada, kami benar-benar melihat sesuatu yang tampak seperti peningkatan ukuran populasi selama periode ini.”

Untuk mempelajari ukuran dan stabilitas populasi badak berbulu di Siberia, para peneliti mempelajari DNA dari sampel jaringan, tulang, dan rambut dari 14 ekor badak berbulu “Kami mengurutkan genom untuk melihat ke masa lalu dan memperkirakan ukuran populasi, dan kami juga mengurutkan empat belas genom mitokondria untuk memperkirakan ukuran populasi efektif betina.” ucap penulis pendamping Edana Lord, mahasiswi PhD di Centre for Palaeogenetics.

Dengan melihat heterozigositas, atau keragaman genetik, dari genom ini, para peneliti dapat memperkirakan populasi badak berbulu selama puluhan ribu tahun sebelum kepunahannya. “Kami memeriksa perubahan ukuran populasi dan perkiraan perkawinan sedarah, ” jelas Nicolas Dussex, peneliti postdoctoral di Center for Palaeogenetics. “Kami menemukan bahwa setelah peningkatan ukuran populasi pada awal periode dingin sekitar 29.000 tahun yang lalu, ukuran populasi badak berbulu tetap konstan dan kala itu, perkawinan sedarah rendah”

Kestabilan ini bertahan lama setelah manusia mulai tinggal di Siberia, berbeda dengan penurunan yang diperkirakan jika badak berbulu punah karena perburuan. “Ini menarik” ucap Lord. “Kami sebenarnya tidak melihat penurunan ukuran populasi setelah 29.000 tahun yang lalu. Data yang kami lihat hanya sampai 18.500 tahun yang lalu, kira-kira 4.500 tahun sebelum kepunahannya, jadi ini menyiratkan bahwa populasinya menurun pada suatu waktu di celah itu.”

Data DNA juga mengungkapkan mutasi genetik yang membantu badak berbulu beradaptasi dengan cuaca yang lebih dingin. Salah satu mutasi ini, sejenis reseptor di kulit untuk merasakan suhu hangat dan dingin, juga telah ditemukan pada mammoth berbulu. Adaptasi seperti ini menunjukkan badak berbulu, sangat cocok dengan iklim Siberia timur laut yang dingin, mungkin telah punah karena panas dari periode pemanasan singkat, yaitu interstadial Bølling-Allerød, yang bertepatan dengan kepunahan mereka menjelang akhir zaman es terakhir.

“Penelitian ini berasal dari gagasan yaitu manusia mengambil alih segalanya segera setelah mereka datang ke lingkungan, dan sebagai gantinya menjelaskan peran iklim dalam kepunahan megafauna” ungkap lord. “Meskipun kami tidak dapat mengesampingkan keterlibatan manusia, kami berpendapat bahwa kepunahan badak berbulu lebih mungkin terkait dengan iklim”

Para peneliti berharap untuk mempelajari DNA dari badak berbulu tambahan yang hidup dalam jarak 4.500 tahun krusial antara genom terakhir yang mereka susun dan kepunahannya. “Yang ingin kami lakukan sekarang adalah mencoba mendapatkan lebih banyak urutan genom dari badak yang berusia antara delapan belas dan empat belas ribu tahun, karena pada titik tertentu, pasti populasinya menurun, ” jelas Dalén. Para peneliti juga melihat megafauna lain yang beradaptasi dengan dingin untuk melihat apa efek lebih jauh dari pemanasan, iklim yang tidak stabil. “Kami tahu iklim banyak berubah, tetapi pertanyaannya adalah: seberapa banyak hewan yang berbeda terpengaruh, dan apa kesamaan mereka?”

Jurnal Referensi:

Edana Lord, Nicolas Dussex, Marcin Kierczak, et al. Pre-extinction Demographic Stability and Genomic Signatures of Adaptation in the Woolly Rhinoceros. Current Biology, 2020; DOI: 10.1016/j.cub.2020.07.046

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.