Ayah dan anak bermain

Bermain dengan Ayah dapat meningkatkan self-control anak

Photo by Maria Lindsey Multimedia Creator from Pexels

Studi ini dilakukan oleh para akademisi diFaculty of Education, University of Cambridge dan LEGO Foundation, mereka mengumpulkan bukti-bukti 40 tahun terakhir untuk memahami lebih jauh bagaimana ayah bermain dengan anak-anaknya ketika usia belia (usia 0 hingga 3 tahun). Para peneliti ingin mengetahui perbedaan permainan ayah-anak dengan ibu-anak, dan dampaknya terhadap perkembangan anak.

Meskipun ada banyak kesamaan secara keseluruhan, temuan menunjukkan bahwa ayah lebih banyak terlibat dalam permainan fisik bahkan dengan anak bungsu, seperti menggelitik, kejar-kejaran atau kuda-kudaan.

Ini tampaknya membantu anak-anak belajar mengendalikan perasaan serta dapat mengatur perilakunya lebih baik di kemudian hari, saat mereka memasuki lingkungan di mana keterampilan itu penting – terutama sekolah.

Paul Ramchandani, Professor of Play in Education, Development and Learning di Faculty of Education, University of Cambridge, : “Penting untuk tidak melebih-lebihkan dampak permainan ayah-anak karena ada batasan pada apa yang dapat dikatakan oleh penelitian kepada kita, tetapi tampaknya anak-anak yang mendapatkan waktu bermain yang wajar dengan ayahnya mendapat manfaat

Di tingkat kebijakan, hal ini menunjukkan bahwa kita memerlukan struktur yang memberi ayah, serta ibu, waktu dan ruang untuk bermain dengan anaknya selama tahun-tahun awal perkembangan.

Permainan orang tua-anak di tahun-tahun pertama kehidupan diketahui mendukung keterampilan sosial, kognitif, dan komunikasi, tetapi sebagian besar penelitian berfokus pada ibu dan bayi. Sedangkan penelitian mengenai permainan ayah-anak jumlahnya sedikit. “Penelitian kami mengumpulkan semua data yang dapat temukan tentang subjek tersebut, menarik pelajaran darinya, ” jelas Ramchandani.

Dengan data dari 78 studi, yang dilakukan antara 1977 dan 2017 – kebanyakan di Eropa atau Amerika Utara. Para peneliti menganalisis informasi gabungan pola tentang seberapa sering ayah dan anak bermain bersama, jenis permainannya, dan kemungkinan kaitannya dengan perkembangan anak.

Rata-rata, mereka menemukan bahwa sebagian besar ayah bermain dengan anaknya setiap hari. Permainan ayah-anak cenderung lebih bersifat fisik. Untuk bayi itu seperti menggendongnya atau membantunya mengangkat anggota tubuh dengan lembut dan mengerahkan kekuatannya; dengan balita, para ayah biasanya memilih permainan yang berat, seperti kejar-kejaran.

Di hampir semua studi yang disurvei, ada korelasi yang konsisten antara permainan ayah-anak dan kemampuan anak-anak dalam mengendalikan perasaan mereka. Anak-anak yang menikmati waktu bermain berkualitas tinggi dengan ayah mereka cenderung tidak menunjukkan hiperaktif, atau masalah emosi dan perilaku. Mereka juga tampak lebih baik dalam mengendalikan agresinya, dan tidak mudah marah kepada anak-anak lain ketika bertengkar di sekolah.

Alasannya mungkin karena permainan fisik yang disukai ayah sangat cocok untuk mengembangkan keterampilan ini.

Permainan fisik menciptakan situasi yang menyenangkan dan mengasyikkan di mana anak-anak harus menerapkan pengaturan diri, ” ucap Ramchandani. “Anda mungkin harus mengendalikan kekuatan Anda, belajar ketika segala sesuatunya berjalan terlalu jauh – atau mungkin ayah Anda menginjak kaki Anda secara tidak sengaja dan Anda merasa kesal!

Ini adalah lingkungan yang aman di mana anak-anak dapat mempraktikkan cara merespons. Jika mereka bereaksi dengan cara yang salah, mereka mungkin akan dimarahi, tetapi ini bukan akhir dari dunia – dilain kesempata mereka mungkin mencoba untuk berperilaku berbeda. “

Studi ini juga menemukan beberapa bukti bahwa permainan ayah-anak secara bertahap meningkat selama masa kanak-kanak, kemudian menurun ketika usia 6 hingga 12). Ini, sekali lagi, mungkin karena permainan fisik membantu anak-anak yang lebih kecil untuk menegosiasikan tantangan yang mereka hadapi ketika mereka mulai menjelajahi dunia di luar rumah, khususnya di sekolah.

Terlepas dari manfaat permainan ayah-anak, penulis menekankan bahwa anak-anak yang hanya tinggal bersama ibunya tidak perlu merasa rugi

Salah satu hal yang sering dikemukakan dalam penelitian ini adalah perlunya memvariasikan jenis permainan anak, dan para ibu tentu saja dapat mendukung permainan fisik ”tambah Ramchandani. “Orang tua yang berbeda mungkin memiliki kecenderungan yang sedikit berbeda dalam hal bermain dengan anak-anak, tetapi bagian dari menjadi orang tua adalah melangkah keluar dari zona nyaman. Anak-anak besar kemungkinan akan mendapat manfaat lebih jika mereka diberi cara berbeda untuk bermain dan berinteraksi.

Jurnal Referensi:

Annabel Amodia-Bidakowska, Ciara Laverty, Paul G. Ramchandani. Father-child play: A systematic review of its frequency, characteristics and potential impact on children’s development. Developmental Review, 2020; 57: 100924 DOI: 10.1016/j.dr.2020.100924

Tautan ke artikel asli: Playtime with dad may improve children’s self-control / University of Cambrige

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.