Siput laut

Ingatan yang terlupakan di otak siput laut

Bernard Picton / CC BY-SA

“Kami cukup yakin bahwa ini adalah karya pertama yang menunjukkan bahwa perubahan genetik yang dipicu oleh pembelajaran dapat bertahan lebih lama dari ingatan” ucap Bob Calin-Jageman, professor psikologi dan direktur program ilmu saraf Dominican University. “Penelitian kami menunjukkan bahwa ketika ingatan memudar, beberapa fragmen molekuler dari ingatan dapat bertahan di otak, di mana ingatan-ingatan itu mulai belajar kembali. Kami senang bahwa pekerjaan ini dapat membuka jalan baru untuk memahami neuroscience dari kelupaan.”

Calin-Jagemans telah melakukan penelitian selama 10 tahun terakhir, dan telah menerbitkan dua makalah yang berfokus pada bagaimana siput laut mengingat — tetapi studi kali ini berfokus pada apa yang terjadi ketika siput laut lupa. Penelitian ini, turut dibantu oleh siswa Leticia Perez, Ushma Patel dan Marissa Rivota, dan dana hibah senilai $ 300.000 dari National Institute of Mental Health.

Selama percobaan, Calin-Jagemans membuat siput laut mengalami guncangan tidak nyaman di satu sisi tubuhnya — yang memicu ingatan ketakutan pada hewan sehingga, setiap kali hewan disentuh sedikit di sisi tersebut, ia bereaksi dengan meringkuk menjadi bola. Namun, jika siput laut dibiarkan sendirian selama beberapa hari, ingatannya sepertinya hilang — mereka tampaknya telah melupakan pengalaman menyakitkan dan, ketika disentuh lagi, reaksi mereka hampir tidak sedramatis itu. Tidak ada bukti lagi bahwa pengalaman menyakitkan telah mengubah cara mereka berperilaku.

Meskipun ingatannya pudar, siput laut dapat mempelajarinya kembali dengan sangat cepat. Calin-Jagemans menemukan bahwa, ketika siput telah melupakan pengalaman menyakitkan sebelumnya, lalu beri guncangan kecil mereka langsung merespons kembali secara dramatis. Sebagian besar spesies, termasuk manusia, lebih mudah mempelajari lagi ingatan yang tampaknya terlupakan. Pembelajaran ulang ini menunjukkan bahwa beberapa fragmen memori masih ada dalam beberapa ragam. Pertanyaan yang membingungkan adalah, fragmen apa ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Calin-Jagemans pertama-tama harus menentukan apa yang sedang terjadi di otak siput laut sebelum terjadi kelupaan. Mereka membuat profil lebih dari 30.000 gen Aplysia dan menemukan bahwa lebih dari 1.200 masih aktifk satu hari setelah guncangan diberikan pada hewan, ketika ingatan guncangan itu masih baru. Ketika mereka memprofilkan gen yang sama satu minggu kemudian, sebagian besar gen mati. Namun, mereka senang menemukan bahwa 11 gen asli tetap aktif — mungkin mewakili fragmen memori yang tersisa yang dapat membantu pembelajaran ulang.

Menurut Irina Calin-Jageman, profesor biologi, “Untuk melihat bahwa ada catatan yang tersisa di otak yang dapat mewakili sebagian besar ingatan yang terlupakan adalah sangat menakjubkan. Ini menjadi bukti bahwa otak memiliki jejak fisik yang lemah dari pengalaman sebelumnya; bahwa otak dikonfigurasi ulang dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, “ jelasnya.

Selanjutnya penelitian ini mencoba mencari tahu apa yang dilakukan gen aktif tersebut, mengapa mereka masih ada di sana dan bagaimana mereka dapat membantu mengembalikan memori. “Kami akan mencoba mengacaukan gen-gen ini dan melihat apakah hal tersebut akan membuat lebih sulit atau lebih mudah untuk mempelajari kembali ingatan. Tetapi itu akan membutuhkan lebih banyak waktu dan lebih banyak dana, ” jelas Bob Calin-Jageman.

Namun Calin-Jagemans tidak dapat memprediksi seberapa berlaku temuan ini bagi otak manusia, mereka berharap bahwa pekerjaan ini akan memberikan pijakan bagi para peneliti lain untuk mengeksplorasi lupa dan pemulihan pada hewan penelitian yang lebih kompleks. Mereka mengakui bahwa hubungan evolusi antara siput laut dan manusia sangat jauh — tetapi ini merupakan awal yang baik.

Lupa adalah sesuatu yang benar-benar tidak kita mengerti. Sebagian besar penelitian ilmiah tentang bagaimana informasi masuk ke otak, bukan bagaimana ia memudar. Jika kita dapat lebih mengerti tentang lupa, mungkin kita dapat menemukan obat-obatan terobosan atau metode untuk membantu memperlambat prosesnya.” jelas Irina Calin-Jageman 

Semangat Calin-Jagemans tentang potensi temuan ini, mereka cukup yakin ini tidak akan membantu orang mengingat di mana mereka meninggalkan kunci. Dan mereka menyatakan bahwa ada beberapa ingatan yang mungkin ingin dilupakan orang secara permanen — seperti kencan pertama yang canggung.

Jurnal Referensi:

V.P. Nikitin, S.V. Solntseva, S.A. Kozyrev, P.V. Nikitin, Long-term memory consolidation or reconsolidation impairment induces amnesia with key characteristics that are similar to key learning characteristics, Neuroscience & Biobehavioral Reviews, Volume 108, 2020, Pages 542-558, ISSN 0149-7634, https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2019.12.005.

Tautan ke artikel asli: Researchers Discover Evidence of Forgotten Memories in Sea Slug Brains / Dominican University

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.