Burung

Kotoran burung membawa risiko resistensi antibiotik

Photo by freestocks.org from Pexels

Penelitian sebelumnya menemukan gen resistensi antibiotik yang dibawa burung (ARG) dan bakteri (ARB) dapat berpindah ke manusia melalui berenang, kontak dengan kotoran, tanah yang terkena atau menghirup partikel feses aerosol. Penelitian juga menganalisis kotoran burung yang ditemukan di dekat hotspot ARG seperti pabrik pengolahan air limbah dan drainase dari peternakan unggas.

Penelitian dari Rice mencoba menggali lebih dalam untuk mengukur kelimpahan, keanekaragaman dan persistensi musiman ARG.

“Kami masih belum paham faktor-faktor apa yang membuat adanya ARG dalam sistem pencernaan burung perkotaan liar.” ucap Alvarez “Antibiotik residual yang secara tidak sengaja berasimilasi selama mencari makan mungkin menjadi salah satu dari faktor-faktor ini, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui faktor etiologi potensial lainnya, seperti diet burung, usia, struktur mikrobioma usus dan stressor lainnya.”

Tim membandingkan sampel “segar” dari masing-masing spesies yang ditemukan di sekitar Houston selama musim dingin dan musim panas dengan sampel dari unggas dan ternak yang diketahui membawa beberapa mutasi yang sama.

Mereka menemukan bahwa ARG pada semua spesies, terlepas dari musim, menunjukkan resistensi terhadap antibiotik tetracyclinebeta-lactam dan sulfonamide . Para peneliti terkejut melihat jumlah ARG yang relatif tinggi sebanding dengan yang ditemukan pada kotoran unggas segar yang terkadang diberi antibiotik.

Mereka juga menemukan intI1, integron yang memfasilitasi akuisisi bakteri secara cepat dari resistensi antibiotik, lima kali lebih banyak pada burung daripada pada hewan ternak.

“Hasil menunjukkan bahwa burung liar perkotaan berpotensi menjadi wadah gen-gen resistensi antimikroba, walaupun ada kemungkinan menyebabkan penularan langsung infeksi resisten tetapi tidak mungkin karena jarang berkontak dengan manusia.” jelas Alvarez

Tim juga mencari ARG di dalam tanah hingga sedalam 1 inci di sekitar kotoran burung dan menemukan bahwa mereka “cukup bertahan” di lingkungan, hingga 11,1 hari.

Menurut temuan, dari ketiga spesies, gagak menunjukkan tingkat ARG yang jauh lebih rendah selama musim panas dibandingkan dengan bebek dan camar.

“Itu mungkin karena perbedaan dalam area ekologis mereka, pola mencari makan dan mikrobioma usus, ” ucap Sun. “Gagak adalah omnivora dan memakan makanan alami yang berlimpah dengan sedikit kontaminasi antropogenik di musim panas. Selain itu, komposisi mikrobioma ususnya berdampak pada penyebaran dan pengayaan ARG secara in vivo, dan karenanya memengaruhi tingkat ARG dalam kotorannya”

Para peneliti menemukan bahwa patogen oportunistik termasuk bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih, sepsis dan infeksi pernafasan itu biasa pada kotoran semua burung, dan satu lagi yang terkait dengan keracunan makanan terdeteksi dalam sampel yang dikumpulkan selama musim dingin.

Kotoran musim dingin mengandung lebih banyak bakteri jahat yang mungkin juga melindungi ARG, mungkin karena jarangnya sinar matahari yang lebih rendah dan perbedaan tingkat kelembaban dan suhu. Jelas peneliti

Studi kami berusaha meningkatkan kesadaran untuk menghindari kontak langsung dengan kotoran burung di area publik perkotaan, terutama untuk populasi yang rentan atau sensitif, ” ucap Yu “Pembersihan rutin juga dapat membantu mengurangi risiko penyakit”

Jurnal Referensi:

Huiru Zhao, Ruonan Sun, Pingfeng Yu, Pedro J.J. Alvarez. High levels of antibiotic resistance genes and opportunistic pathogenic bacteria indicators in urban wild bird fecesEnvironmental Pollution, 2020; 266: 115200 DOI: 10.1016/j.envpol.2020.115200

Tautan ke artikel asli: Bird droppings carry risk of antibiotic resistance / Rice University

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.