Air

Membuat pemodelan sumber daya air yang lebih mudah diakses

Photo by Misael Garcia from Pexels

Pertumbuhan populasi dan pembangunan ekonomi yang terus berlanjut menyebabkan peningkatan permintaan air yang signifikan, terutama di daerah berkembang. Pada saat yang sama, perubahan iklim telah memengaruhi ketersediaan air. Untuk memastikan perubahan pasokan dapat memenuhi permintaan tanpa mengorbankan lingkungan, jelas merupakan tantangan besar yang akan membutuhkan strategi dan kebijakan melalui ilmu pengetahuan.

Untuk membantu penilaian akurat pasokan air dan tuntutan masyarakat serta lingkungan, para peneliti IIASA telah mengembangkan model hidrologi dan sumber daya air skala besar ̶ Community Water Model (CWatM). Model ini dapat mensimulasikan pergerakan, distribusi, dan pengelolaan air baik secara global maupun regional untuk mengevaluasi ketersediaan air dalam hal permintaan air dan kebutuhan lingkungan. Ini mencakup penghitungan bagaimana permintaan air di masa depan akan berkembang sebagai respons terhadap perubahan sosial ekonomi dan bagaimana ketersediaan air akan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Kerangka kerja pemodelan ini terintegrasi mempertimbangkan permintaan air dari pertanian, kebutuhan domestik, energi, industri, dan lingkungan.

Skema proses dari Community Water Model ©IIASA

Community Water Model ini modular, open source dan menggunakan protokol penyimpanan data canggih sebagai data input dan output, sembari digerakkan oleh komunitas untuk mempromosikan kerjasama dalam pengelolaan air yang lebih luas. Model ini cukup fleksibel untuk diintegrasikan dengan kualitas air dan hidro-ekonomi, dan dipasangan dengan model IIASA lainnya seperti  MESSAGE, the Global Biosphere Management Model (GLOBIOM)BeWhere, dan Environmental Policy Integrated (EPIC) model.

Karena kerangka kerja pemodelan bersifat umum dan juga dapat diadaptasi untuk banyak aplikasi potensial dalam mengeksplorasi koneksi antara aspek-aspek nexus seperti energi, tanah, dan air.

Menurut para peneliti, kebaruan utama dari model ini yaitu ia menggabungkan praktik di berbagai komunitas ilmiah di luar hidrologi itu sendiri, daripada memberikan konsep yang sama sekali baru untuk memodelkan proses hidrologi dan sosial ekonomi. Selain itu, model ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dari berbagai tingkat keterampilan pemrograman. Sehingga akan mendukung dan memungkinkan berbagai kelompok pemangku kepentingan, komunitas ilmiah di luar hidrologi untuk terlibat dengan model hidrologi dalam mendukung penyelidikannya.

“Community Water Model mewakili salah satu elemen kunci baru Program Air IIASA untuk menilai pasokan air, permintaan air, dan kebutuhan lingkungan di tingkat global dan regional. Ini adalah permulaan menuju pengembangan kerangka kerja pemodelan terintegrasi, yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi trade-off ekonomi antara berbagai opsi pengelolaan air, yang mencakup infrastruktur pasokan air dan manajemen permintaan. Dengan kerangka kerja ini kita dapat memberikan informasi penting kepada pembuat keputusan dan kebijakan” jelas Peter Burek, peneliti dari IIASA dan penulis utama studi ini

Community Water Model akan terus dikembangkan untuk mencakup lebih banyak fitur seperti skema perutean seperti waduk dan kanal untuk mensimulasikan ketersediaan air yang lebih baik dalam konteks pertanian dan perkotaan, serta kapasitas untuk mengeksplorasi aspek-aspek terkait dengan pengelolaan air tanah.

Jurnal Referensi:

Burek P, Satoh Y, Kahil T, Tang T, Greve P, Smilovic M, Guillaumot L, Zhao F, & Wada Y (2020). Development of the Community Water Model (CWatM v1.04) – a high-resolution hydrological model for global and regional assessment of integrated water resources management. Geoscientific Model Development 13, 3267–3298 DOI: 10.5194/gmd-13-3267-2020

Tautan ke artikel asli: Making comprehensive water resources modeling more accessible / International Institute for Applied Systems Analysis

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.