Mesin pengeruk batubara

Mengganti Batubara dengan Gas atau Energi Terbarukan Menghemat Miliaran Galon Air

Transisi yang sedang berlangsung dari batu bara ke gas alam dan energi terbarukan di sektor listrik A.S. secara dramatis mengurangi penggunaan air industri, menurut sebuah studi baru yang ditemukan oleh Duke University.

“Sementara sebagian besar perhatian telah difokuskan pada manfaat iklim dan kualitas udara dari beralih dari batu bara, studi baru ini menunjukkan bahwa transisi ke gas alam – atau bahkan ke sumber energi terbarukan – telah menghemat miliaran galon air, ” jelas Avner Vengosh, professor of geochemistry and water quality di Duke’s Nicholas School of the Environment.

Penghematan konsumsi air dan penarikan air ini telah terjadi meskipun ada intensifikasi penggunaan air yang terkait dengan produksi fracking dan shale gas.

Untuk setiap megawatt listrik yang diproduksi menggunakan gas alam, bukan batubara, jumlah air yang diambil dari sungai dan air tanah berkurang 10.500 galon, setara dengan pasokan air 100 hari untuk rumah tangga di Amerika,” ucap Andrew Kondash, seorang peneliti pascadoktoral di Duke, yang memimpin penelitian ini sebagai bagian dari disertasi doktoralnya di bawah Vengosh.

Konsumsi air – jumlah air yang digunakan oleh pembangkit listrik dan tidak pernah kembali ke lingkungan – hilang hingga 260 galon per megawatt, jelasnya.

Pada tingkat pengurangan ini, jika kenaikan shale gas sebagai sumber energi dan penurunan batubara berlanjut hingga dekade berikutnya, pada tahun 2030 sekitar 483 miliar meter kubik air akan terselamatkan setiap tahun menurut perkiraan.

Jika semua pembangkit listrik tenaga batu bara dikonversi menjadi gas alam, penghematan air tahunan akan mencapai 12.250 miliar galon – 260% dari penggunaan air industri AS saat ini.

Meskipun besarnya penggunaan air untuk penambangan batubara dan fracking serupa, sistem pendingin pada pembangkit listrik gas alam menggunakan air yang jauh lebih sedikit secara umum dibandingkan dengan yang ada di pembangkit batubara. Serta menambah penghematan yang besar dengan cepat, karena 40% dari semua penggunaan air di Amerika Serikat saat ini digunakan untuk mendinginkan pabrik-pabrik termoelektrik, catat Vengosh.

“Jumlah air yang digunakan untuk mendinginkan pembangkit listrik thermoelectric melampaui semua kegunaan lainnya di sektor listrik, termasuk untuk penambangan batubara, pencucian batubara, transportasi bijih dan gas, pengeboran dan fracking,” jelasnya.

Bahkan penghematan lebih besar dapat diwujudkan dengan beralih ke energi matahari atau angin. Studi baru menunjukkan bahwa intensitas air dari sumber energi terbarukan ini, yang diukur dengan penggunaan air per kilowatt listrik, hanya 1% hingga 2% dari intensitas air batubara atau gas alam.

“Beralih ke energi matahari atau angin akan menghilangkan banyak penarikan air dan konsumsi air untuk pembangkit listrik di AS,” ungkap Vengosh.

Gas alam mengambil alih batu bara sebagai bahan bakar fosil utama untuk pembangkit listrik di Amerika Serikat pada tahun 2015, terutama karena meningkatnya eksplorasi shale gas non konvensional. Pada tahun 2018, 35,1% listrik AS berasal dari gas alam, sedangkan 27,4% berasal dari batu bara, 6,5% berasal dari energi angin, dan 2,3% berasal dari energi surya, menurut Energy Information Administration AS (EIA).

Jurnal Referensi:

“Quantification of the Water-Use Reduction Associated with the Transition from Coal to Natural Gas in the U.S. Electricity Sector,” Andrew J. Kondash, Dalia Patiño-Echeverri and Avner Vengosh; Oct. 14, 2019, Environmental Research Letters. DOI: https://doi.org/10.1088/1748-9326/ab4d71

Tautan ke artikel asli: Replacing Coal with Gas or Renewables Saves Billions of Gallons of Water / Duke University

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan translasi menjadi tanggungjawab kami.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.