Singkong

Mengubah limbah singkong untuk mengurangi GRK

David Monniaux / CC BY-SA

Produksi dan pemrosesan singkong di Nigeria menghasilkan limbah dan residu berbahaya. Selain bahaya lingkungan, limbah tersebut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK). Intervensi cerdas iklim yang inovatif di Nigeria adalah menggunakan kembali kulit singkong menjadi pakan ternak. Ini mengurangi permintaan jagung untuk pakan, menciptakan peluang bisnis baru dari limbah, mengurangi bahaya limbah dan mengurangi emisi GRK.

Secara global, emisi GRK dari pengolahan makanan dan limbah pasca panen berkontribusi besar terhadap perubahan iklim. Menurut FAO, kehilangan dan pemborosan makanan menyumbang sekitar 4,4 gigaton emisi GRK (4,4 Gt CO2 eq) per tahun. Jika kehilangan dan pemborosan makanan terjadi dinegaranya sendiri, ucap mereka, itu akan menjadikannya penghasil emisi terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. Faktanya, kehilangan makanan dan limbah menghasilkan empat kali lipat emisi GRK tahunan daripada penerbangan dan sebanding dengan emisi dari transportasi.

GRK dari limbah pertanian berasal dari berbagai sumber, termasuk pertanian, listrik dan panas yang digunakan dalam pengolahan, energi yang digunakan untuk mengangkut, menyimpan dan memasak makanan, limbah yang membusuk dan dari perubahan penggunaan lahan serta deforestasi untuk menghasilkan makanan yang akhirnya hilang atau terbuang. Memotong limbah menawarkan cara yang menjanjikan untuk mengurangi emisi GRK.

Nigeria adalah produsen singkong terbesar di dunia, menghasilkan sekitar 57 juta ton akar umbi per tahun (FAO). Singkong adalah sumber makanan utama dan menyediakan mata pencaharian bagi banyak rumah tangga. Pengolahannya juga menghasilkan sejumlah besar limbah dalam berbagai bentuk, seperti residu padat dan cair yang berbahaya bagi lingkungan. Limbah biologis seperti kulit singkong dan limbah cair dari tumbukan yang difermentasi. Selain kulit, tunggul dan umbi berukuran kecil atau rusak yang dibuang selama pemrosesan, ini semua menyumbang hampir sepertiga dari total berat umbi yang diproses. Kulitnya biasanya dibuang ke tanah atau di badan air dan dibiarkan membusuk, yang memicu bahaya kesehatan dan lingkungan. The International Livestock Research Institute (ILRI) memperkirakan sekitar 14 juta ton kulit singkong dihasilkan di Nigeria setiap tahun. Penelitiannya menunjukkan bahwa kulit ini dapat digunakan untuk meningkatkan ketersediaan pakan ternak sekaligus mengurangi GRK.

Pada 2015, para ilmuwan CGIAR mengembangkan cara berteknologi rendah untuk mengubah kulit singkong basah menjadi bahan pakan berkualitas tinggi, aman dan higienis. Prosesnya sederhana dan dapat dilakukan oleh prosesor skala kecil, lebih dari 80% di antaranya adalah wanita. Hal tersebut mengubah limbah singkong menjadi sumber pakan berharga, menghasilkan pendapatan baru, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan dengan membersihkan lingkungan. Juga membantu mengurangi emisi GRK di sekitar pusat pengolahan singkong.

Hasil penelitian dan pengujian dengan sektor swasta ini sekarang beralih ke aplikasi, dengan teknologi pemrosesan inovatif mengubah kulit segar menjadi tumbuk kulit singkong berkualitas tinggi untuk digunakan sebagai pakan ternak (ILRI). Kulit singkong juga sedang diubah menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif – mengurangi emisi dari bahan bakar fosil.

Sementara pertanian cerdas iklim sering dianggap sebagai prioritas bagi petani dan produsen karena mereka menanam pangan yang kita butuhkan, kita harus yakin untuk tidak mengabaikan semua bagian dari rantai nilai pertanian; peluang untuk mengurangi emisi GRK dapat dimanfaatkan di tempat-tempat yang tidak terduga.

Tautan ke artikel asli: Transforming cassava wastes to wealth as a climate-change mitigation strategy in Nigeria / CTA

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan translasi menjadi tanggungjawab kami.