Merokok

Merokok meningkatkan risiko komplikasi setelah operasi

Temuan dalam WHO Tobacco Knowledge Summary on Tobacco Postsurgical Outcomes memberikan dorongan yang baik bagi perokok untuk berhenti – berhenti sekitar empat minggu sebelum operasi menurunkan risiko komplikasi dan memberikan hasil yang lebih baik enam bulan pasca operasi. penelitian tersebut di pimpin oleh University of Newcastle, the World Health Organisation (WHO), dan World Federation of Societies of Anaesthesiologists (WFSA)

Untuk setiap minggu tambahan berhenti merokok sebelum operasi, seorang pasien menunjukkan peningkatan hasil 19% setelah operasi.

Director of Health Programs, Global Engagement and Partnerships di University of Newcastle, Associate Professor Edouard Tursan D’Espaignet,, mengatakan hal ini disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke seluruh tubuh ke organ-organ penting.

Proses penyembuhan setelah operasi mengharuskan tubuh untuk menggunakan peningkatan jumlah oksigen dan nutrisi. Merokok satu batang saja dapat mengurangi aliran darah tubuh dan kemampuan untuk memberikan nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan ini. Asap dan tembakau tanpa asap juga dapat menyebabkan hasil yang merugikan setelah operasi, ” jelas Associate Professor Tursan D’Espaignet.

The Tobacco Knowledge Summary on Tobacco and Postsurgical Outcomes juga melaporkan bahwa penurunan kadar oksigen, yang disebabkan oleh bahan kimia dalam tembakau, meningkatkan risiko komplikasi terkait jantung setelah operasi.

Associate Professor Luke Wolfenden dari University of Newcastle’s Priority Research Centre for Health Behaviour, yang juga anggota Hunter Medical Research Institute’s Public, mengatakan kerusakan paru-paru akibat merokok meningkatkan risiko komplikasi pasca-operasi di paru-paru.

Merokok juga merusak sistem kekebalan tubuh pasien dan respons tubuh terhadap luka. Tubuh perokok mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan luka yang dapat meningkatkan risiko infeksi di lokasi luka.

Secara keseluruhan, jantung, paru-paru, dan tempat luka pasien semuanya memiliki risiko besar ketika mereka merokok, “ucap Associate Professor Wolfenden.

Associate Professor Tursan D’Espaignet mengatakan komplikasi setelah operasi menimbulkan beban besar bagi penyedia layanan kesehatan dan pasien.

“Beberapa dari komplikasi ini dapat dicegah, atau risikonya dapat diminimalkan, jika pasien berhenti merokok sebelum operasi.

Ahli bedah, ahli anestesi, perawat, dan praktisi kesehatan yang terlibat dalam operasi non-darurat harus bekerja bersama untuk mendorong pasien untuk mencoba dan berhenti menggunakan tembakau sebelum operasi apa pun. Ini akan membantu mengurangi tingkat kunjungan kembali di rumah sakit dengan meminimalkan risiko komplikasi dan infeksi pada pasien dengan riwayat merokok”

Program berhenti merokok harus didukung sepenuhnya oleh kebijakan dan program kesehatan nasional, perusahaan asuransi kesehatan, rumah sakit, dokter, dan perawat, ” jelas Associate Professor Tursan D’Espaignet.

The University of Newcastle’s Priority Research Centre for Health Behaviour, yang merupakan Pusat Kerja Sama WHO, menunjukkan upaya penelitian terkemuka dalam proyek tersebut.

The University’s Senior Deputy Vice-Chancellor and Vice-President, Global Engagement and Partnerships, Professor Kevin Hall, mengatakan suatu kehormatan untuk bermitra dengan WHO untuk membantu mendorong upaya global mereka melawan penyakit tidak menular.

“Kami bangga bahwa para peneliti kami berkontribusi dan membantu membawa hasil kesehatan yang lebih baik di seluruh dunia.”

“Kami sangat menghargai kemitraan kami dengan organisasi seperti WHO dan CIFAL Global Network karena mereka membantu kami untuk berbagi penelitian lokal yang penting secara global,” ucap Profesor Hall.

Tautan ke artikel asli: Smoking increases risk of complications after surgery, joint WHO study finds / University of Newcastle, Australia

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan translasi menjadi tanggungjawab kami.