Rumput

Tidak semua tanaman baik untuk Anda

Pernah tertarik untuk mencoba plant-based diet?

Memang benar bahwa banyak tanaman menyediakan banyak nutrisi, dan energi yang diperlukan termasuk kecil dibandingkan dengan produk hewani. Namun, sebelum memulai perubahan besar dalam diet, ada baiknya mempertimbangkan penelitian dan pengalaman dari trio ahli neurotoksikologi di Oregon Health & Science University.

Pesan mereka: Tidak semua tanaman baik untuk Anda.

Ini terutama berlaku bagi mereka yang kekurangan gizi atau bergantung pada satu tanaman. Tetapi para ilmuwan memperingatkan bahwa tren peningkatan dalam mencari makan makanan liar juga meningkatkan risiko bagi orang-orang di negara-negara kaya, terutama karena beberapa tanaman mungkin menjadi lebih beracun karena perubahan iklim.

“Intinya adalah bahwa tanaman dan jamur tidak serta merta ada di sini untuk keuntungan kita – mereka sedang mencoba mempertahankan diri,” jelas Peter Spencer, professor of neurology di OHSU School of Medicine dan affiliated faculty member dari Oregon Institute of Occupational Health Sciences di OHSU. ” Mereka memiliki semua jenis sistem pertahanan kimia”

Dalam jurnal Environmental Neurology, para ilmuwan OHSU menyoroti tanaman dengan potensi neurotoksik pada orang kurang gizi di seluruh dunia.

Di dalamnya, para ilmuwan mencatat sejumlah tanaman yang menyebabkan sakit atau membunuh orang kurang gizi di seluruh dunia.

Efek neurologis yang merugikan dari ketergantungan makanan pada komponen tanaman dengan potensi toksik merupakan masalah kesehatan yang besar ” tulisnya

Para peneliti mengkatalog efek neurotoksik potensial dari buah pohon ackee, tanaman asli dari Afrika Barat dan favorit di Jamaika; buah leci, buah tropis lezat dari Asia selatan sekarang dimakan di seluruh dunia; grasspea, kacang-kacangan kaya protein yang dimakan di benua India dan ujung Afrika; serta singkong, tanaman yang akar dan daunnya dikonsumsi di seluruh sub-Sahara.

Meskipun tanaman ini menyediakan makanan bagi jutaan orang, para ilmuwan menjelaskan konsekuensi yang mempengaruhi fungsi otak, dalam kasus singkong dan grasspea misalnya, secara bertahap menginduksi penyakit yang melumpuhkan. Terutama yaitu jumlah produk tanaman yang dikonsumsi; kesehatan orang-orang yang memakannya; dan ketersediaan relatif dari masing-masing tanaman ini karena kemiskinan, kelaparan dan, semakin, perubahan iklim.

Singkong adalah contoh utama.

Banyak orang di Afrika mengandalkan singkong sebagai sumber makanan utama karena tumbuh dengan baik di tanah kering. Tetapi ketika ditekan oleh kekeringan, konsentrasi pertahanan kimianya meningkat pada saat yang sama air untuk membersihkan faktor-faktor beracunnya sangat sedikit. Mereka yang bergantung pada singkong memicu pengembangan penyakit kesulitan berjalan.

Tshala-Katumbay dari Republik Demokratik Kongo, dahulu gemar makan akar singkong, ia menghabiskan dua dekade terakhir bekerja dengan komunitas lokal di DRC untuk mengurangi paparan racun tanaman. Meskipun keracunan singkong dapat dikurangi melalui metode persiapan makanan yang cermat, tingkat konsumsi yang tinggi membuat sulit untuk menghilangkan risikonya.

Walaupun racun dosisnya rendah, paparan kumulatif mungkin memiliki efek jangka panjang, ” jelas Tshala-Katumbay.

Palmer dan Spencer memfokuskan penelitian selama puluhan tahun di lapangan dan laboratorium pada grasspea, kacang-kacangan yang juga menyebabkan tremor, kelemahan otot, dan bahkan kelumpuhan pada mereka yang bergantung pada makanan tersebut. Palmer turut membentuk kelompok ilmuwan di seluruh dunia dengan berbagai keahlian, termasuk botani, biologi, dan kimia, untuk mengembangkan jenis kacang-kacangan yang rendah racun dan toleran terhadap lingkungan.

Sayangnya, ungkap Palmer, orang mungkin menjadi semakin terpapar tanaman yang berpotensi beracun ketika iklim menghangat dan populasi global meningkat, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Ini sangat memprihatinkan, terutama karena banyak orang yang bergantung pada tanaman ini di masa depan, ” jelasnya.

Ketika mereka fokus pada neurotoksin di seluruh dunia, para peneliti OHSU bekerja untuk meningkatkan kesehatan manusia di negara-negara berkembang sambil meningkatkan pemahaman ilmiah tentang neurotoksin yang mempengaruhi orang-orang bahkan di negara-negara kaya seperti Amerika Serikat.

Spencer percaya bahwa “exposome” dari makanan yang kita makan, udara yang kita hirup, bahan-bahan kimia yang secara tidak sadar kita terpapar – berpengaruh menentukan kesehatan manusia dan mencegah penyakit.

“Pencegahan penyakit otak adalah tujuan utama kami: mencari dan memahami penyebab kimiawi penyakit dan meminimalkan paparan pada manusia,” jelas Spencer.

Jurnal Referensi:

Plants with neurotoxic potenV.S. Palmer, D.D. Tshala-Katumbay, P.S. Spencer. Plants with neurotoxic potential in undernourished subjectsRevue Neurologique, 2019; DOI: 10.1016/j.neurol.2019.07.015

Tautan ke artikel asli: Not all plants are good for you / OHSU

Diterjemahkan oleh saintifia dengan seizin dari yang bersangkutan, segala kesalahan penerjemahan menjadi tanggungjawab kami.